Proses Ejakulasi

By | July 5, 2013

Proses ejakulasi terdiri dari fase emission (pemancaran) dan expulsion (pengeluaran) dua refl eks persarafan sequential yang jelas berbeda namun dikoordinasi dan distimulasi oleh input saraf sensoris. Serabut saraf sensorik n. pudendus di glans penis mengirim informasi menuju sacral cord dan bagian otak korteks serebral sensoris.

Refl eks ejakulasi dimodulasi oleh otak dan medula spinalis; seseorang dapat berejakulasi dengan stimulasi getaran penis. Gambar 1 Neurophysiology of ejaculation. Sumber: Wyllie MG, Hellstrom WJG. (2010) (Keterangan: OT, oxytocin; 5-HT, 5-hydroxytryptamine (serotonin); NA, noradrenaline, ACh, acetylcholine; NO, nitric oxide; BC, bulbocavernosus muscle.) Neurotransmiter 5-hidroksitriptamin (5-HT, serotonin) terlibat pada pengendalian ejakulasi. Efek “perlambatan” (retarding eff ect) 5-HT pada ejakulasi dikarenakan aktivasi sentral (yaitu: spinal dan supraspinal) reseptor 5-HT1B dan 5-HT2C, sedangkan rangsangan reseptor 5-HT1A menimbulkan ejakulasi.

Pendekatan Patofisiologis

Respon ejakulasi dipicu oleh stimulasi (rangsangan) genital dan kortikal. Glans penis memiliki reseptor taktil yang dihubungkan melalui penis bagian dorsal dan n. pudendus menuju medula spinalis segmen sakral. Saraf simpatis yang terlibat dalam emisi semen berasal dari intermediolateral columns medula spinailis (T10–L2), melintasi rangkaian simpatis dan n. hipogastrikus menuju pelvic plexus dan melalui cavernous nerve menuju vas deferentia.

Aktivitas simpatis memproduksi kontraksi otot polos epididymis dan vas deferens yang memindahkan sperma menuju urethra posterior. Vesikula seminalis dan kelenjar prostat berkontraksi mengeluarkan cairan yang bercampur dengan sperma; kemudian bercampur dengan cairan yang berasal dari kelenjar bulbourethral membentuk semen (mani).

Semen menyebabkan tekanan pada dinding ampullae urethra yang memuncak menuju aff erent impulses, yang mencapai tulang belakang (S2–4) melalui saraf pudendal dan pelvik. Pengeluaran diperantarai oleh motor neurons di nucleus Onuf yang melewati pudendal nerve; mempersiapkan kontraksi harmonis otot bulbo-cavernosus dan ischiocavernosus di dasar panggul. Penderita ejakulasi dini primer idiopatik memiliki penile sensory thresholds yang lebih rendah dan/atau cortical penile thresholds yang lebih besar daripada rekannya yang normal. Riset pada hewan dan manusia menghubungkan serotonergic genesis dan penyebab genetik.

Pendekatan NeurobiogenesisProses ejakulasi

Stimulasi di reseptor sensoris mukosa glans penis (Krause fi nger corpuscles) diteruskan oleh serabut aferen n. pudendus menuju S4, juga menuju pleksus hipogastrik di ganglia simpatetik T10–L2. Informasi sensoris diteruskan ke otak, dimana tiga pusat ejakulasi terletak; dua di hipotalamus (medial preoptic area dan paraventricular nucleus) dan satu di midbrain (periaqueductal grey). Pusat-pusat ini memadukan emisi semen, ejakulasi, dan orgasme. Hasil yang berupa efferent dopamine oleh pusat-pusat ini diatur oleh nucleus paragigantocellularis; memiliki pengaruh menghambat (inhibitory) dari neuron serotonergik yang terpusat dan menuju lumbar–sacral motor nuclei, yang secara kuat (tonically) menghambat ejakulasi. Neurotransmiter yang terlibat di pusat-pusat ini termasuk noradrenalin, gamma-aminobutyric acid, oksitosin, nitric oxide, serotonin dan estrogen.

Ejakulasi dipicu oleh serabut eferen dopamin yang beraksi di pusat reseptor D2 dan serabut eferen spinal, yang meneruskan informasi menuju ganglia simpatetik di T10–L2 dan serabut sakral. Hal ini menstimulasi n. pudendus di daerah S2–S4, menghasilkan beberapa tahapan berikut:

1. Tahap Pertama

Terjadi kontraksi otot polos prostat, seminal vesicles, vas deferens and epididymis. Kejadian ini meningkatkan volume semen yang didorong menuju uretra posterior dengan kontrol sistem saraf simpatetik, memproduksi emisi (pengeluaran/pancaran semen).

2. Tahap Kedua

Kontraksi ritmis dasar panggul dan otot bulbo-ischiocavernosus dikendalikan oleh saraf parasimpatis yang mengesampingkan (override) saraf simpatis. Hal ini mendorong cairan semen keluar melalui uretra, menghasilkan ejakulasi.

3. Tahap Ketiga

Tahap ini berupa orgasme. Ejakulasi dini primer karena hiposensitivitas 5-hydroxytryptamine 2c (5-HT2c) serotonin receptors atau hipersensitivitas reseptor serotonin 5-HT1, menyebabkan penurunan ambang ejakulasi dan pemendekan waktu IELT (intravaginal ejaculation latency time).